Desaku desa yang sangat
menyenangkan ketika aku masih anak-anak dulu, semakin dewasa aku semakin sadar
bahwa banyak yang harus ku perbaiki di desaku. Sebagian besar penduduk desaku
berprofesi sebagai petani, tetapi entah mengapa profesi itu dianggap tidak KEREN, hanya karena tidak mendapatkan
penghasilan yang tetap.
Dulu aku berfikir,
kenapa sih petani banyak yang miskin?
Kenapa banyak yang malu
menjadi anak petani?
Kenapa yang kaya justru
anak pedagang? Padahal yang dijual kan hasil dari kerja keras petani.
Kenapa petani justru
sering berkata kepada anaknya, “kalau sudah besar nanti jangan jadi petani
seperti saya, jadilah pegawai seperti guru bidan perawat atau yang lain”.
Seburuk itu kah profesi sebagai seorang petani sehingga tidak ingindiwariskan
kepada anaknya?
Memang sih waktu SD
dulu ku lihat guru SD.ku sebagian besar hidup berkecukupan, dan aku ikut
berfikir seperti itu. Tetapi naluri ini tidak bisa ditahan, apakah benar
seperti itu? Kenapa harus seperti itu?
Pertanyaan itu terus ku
simpan mulai dari SD sampai SMA. Kenapa yang merasakan justru yang tidak
melakukan kerja keras? Apakah ini bisa disebut adil? Memang sih adil itu sesuai
dengan proporsi bukan sama rata karena kita bukan bangsa penganut paham
komunis.
Tapi,,
Lagi – lagi hati ini
berontak, ketika melihat langsung atau mendengar cerita petani yang menjual
hasil panennya kepada tengkulak atau pedagang pengumpul dengan harapan
memperoleh hasil yang pantas untuk kerja kerasnya. Tetapi sebagian besar yang
mereka terima adalah senyum kecut yang tergambar dalam wajahnya ketika hasil
yang mereka harapkan tidak sesuai dengan kenyataan.
Ya. Disini aku sadar
bahwa ada masalah. Seperti teori sosiologi, masalah adalah kesenjangan antara
harapan dengan kenyataan. Petani berharap hasil kerja kerasnya dihargai dengan
pantas tetapi yang mereka terima lebih sering tidak seperti itu, ini adalah
masalah. Masalah yang sudah membelenggu petani selam bertahun – tahun dan
mungkin sudah berkaar sangat dalam.
Petani berangkat ke
sawah setiap pagi, menghadapi teriknya panas matahari, harus merawat tanaman,
terkadang sampai bertengkar apabila tanamannya kekurangan air. Hasil panennya
hanya dihargai murah, itu saja belum cukup mengiris hatiku.
Hati ini sangat miris,
ketika petani berharap hasil panennya pada pedagang untuk dibayar tunai atau
sebagian dulu tapi kenyataan yang di dapat seringkali tanamannya sudah dipanen
tapi haknya petani belum diberikan oleh tengkulak. Padahal petani
menggantungkan hidupnya pada tanaman tersebut, untuk kebutuhan hidupnya, untuk
biaya sekolah anakanya, untuk berobat, dan hal – hal lain. Seringkali pedagang
main kucing – kucingan ketika petani datang untuk meminta haknya, petani harus
terlunta kesana kemari mencari tengkulak untuk meminta haknya.
Kenapa bisa seperti
ini? Dulu aku hanya bisa menyimpan semua ini dalam pikiran dan tidak pernah
menemukan jawaban meskipun sudah menceritakan pada orang lain.
Setelah masuk bangku
kuliah,,
Aku menemukan
jawabannya, dalam suatu sistem agribisnis petani memang membutuhkan tengkulak
atau pedagang pengumpul untuk menjual hasil pertaniannya. Dosen dan materi yang
kubaca semua berkata seperti itu. Hati ini masih belum puas mendapatkan jawaban
itu.
Aku terus mencari
jawabannya. . .
Sampai akhirnya aku
menemukan jawaban yang kurasa sudah cukup menjawab rasa penasaranku selama ini.
Kenapa petani
dipermainkan tengkulak atau pedagang pengumpul? Karena posisi tawar petani
lemah! Di Jepang petani memiliki posisi tawar yang tinggi karena memiliki
lembaga pemasaran yang harus dilalui oleh pedagang saat akan membeli produknya.
Kenapa petani
mendapatkan harga yang tidak sepantasnya? Karena yang mengetahui harga pasar
adalah pedagang! Memang sih pemerintah menetapkan Floor Price (harga pembelian terendah) tapi kebijakan hanya dibuat,
dalam realisasinya seringkali tidak berjalan dengan baik karena kurangnya
pengawasan. Di Jepang petani selain mengetahui harga dan wilayah mana yang
membutuhkan produknya sehingga tidak sampai terjadi panen raya sampai harga
produknya murah, eh terlalu pertanian ya bahasanya. Jadi gini, seringkali kita
menjumpai harga mangga, oh rambutan aj wes kayak lagunya wali musim duren
sampai musim rambutan :D. Buah rambutan seringkali sangat murah dimana harganya
tidak sampai Rp 1000/kg, karena kita tidak mengetahui daerah mana yang
membutuhkan buah tersebut. Di Jepang tidak pernah terjadi seperti itu karena
mereka tahu dimana daerah yang membutuhkan buah rambutan sehingga harganya
tetap stabil.
Kenapa di Indonesia
tidak seperti itu?
Yah, masalah di negara
justru semakin kompleks.
Kenapa petani banyak yang
miskin? Ya. Aku dapat jawabannya. Petani kita seringkali krisis manajemen.
Ketika panen seringkali petani membeli barang” yang kurang diperlukan tanpa
memikirkan kehidupannya kedepan selama dia mulai menanam tanaman lagi,
seharusnya uang itu dimanajemen agar cukup sampai panen berikutnya. Kondisi ini
diperparah dengan kelakuan para tengkulak yang tidka cepat membayar hak petani.
Kenapa banyak yang malu
menjadi anak petani? Ya. Aku mendapat jawabannya. Petani dianggap pekerjaan
yang tidak menjanjikan karena hasilnya tidak pasti ditambah dengan pakaian yang
lusuh karena harus berteman dengan lumpur. Oh men, bukankah bertani itu sama
dengan berbisnis? Bukankah setiap kita menanam sama dengan kita menanam modal?
Untung rugi? Itu sudah biasa, tapi petani justru lebih hebat daripada kita.
Kenapa? Beliau terus menanam meskipun seringkali rugi, beliau memilih menanam
tanaman apa itu sudah suatu manajemen. tidak perlu menempuh mata kulaih
manajemen pengambilan keputusan seperti anak agribisnis. Pengusaha seringkali
menganalisis usahanya sebelum mengusahakan sesuatu, bertanya pada konsultan.
Petani? Petani otoditak merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, dan
mengevaluasi sendiri usaha taninya. Bukan itu tugas seornag manajer? Bukankah
petani hebat? Tidak harus kuliah dimanajemen tapi sudah bisa melakukan fungsi –
fungsi manajemen.
Lalu,,
Kenapa harus malu
menjadi anak petani? Bagaimana apabila petani tidak mau menanam lagi? Apa yang
terjadi? Bahkan dosen saya pernah bilang bagaimana kalau semua petani di Indonesia
tidak mau menanam lagi, dan pemerintah membuang semua beras yang ada ke dalam
laut, mau makan apa kalian? Masih mau meremehkan petani?
Kalian mau makan apa?
Impor dari negara tetangga? Tidak malukah kita makan minta tetangga terus
padahal kita dikenal sebagai negara agraris?
Di Jepang profesi
sebagai petani itu adalah profesi yang KEREN.
Kenapa? karena mereka sadar dan sangat menghargai jasa petani, apabila tidak
ada petani mereka tidak mengkin bisa mengkonsumsi makanan setiap hari. Tidak
hanya makanan, tapi pakaian dan perabotan yang terbuat dari kayu itu hasil
darimana? itu hasil dari pertanian! Tapi seringkali masuk dalam industri.
Petani Jepang sangat makmur dan bangga menjadi petani, mereka seringkali jalan
– jalan ke luar negeri pada musim dingin untuk refreshing.
Lho.. pertanyaan saya..
mereka bisa jalan – jalan padahal bertani hanya beberapa musim. Sedangkan
petani Indonesia bertani setiap hari kenapa masih miskin?
Jawabannya adalah
generasi muda yang bisa memperbaiki semua ini, genrasi muda haruus berjuang
lebih keras agar semua permasalahan yang ada bisa terpecahkan meskipun butuh
proses dan kerja keras.
4 September 2015
anggraini dwi rahayu anak desa yang memiliki mimpi tinggi
dan sedang berusaha mewujudkan mimpinya
anggraini dwi rahayu anak desa yang memiliki mimpi tinggi
dan sedang berusaha mewujudkan mimpinya