Minggu, 04 Oktober 2015

Desaku desa yang sangat menyenangkan ketika aku masih anak-anak dulu, semakin dewasa aku semakin sadar bahwa banyak yang harus ku perbaiki di desaku. Sebagian besar penduduk desaku berprofesi sebagai petani, tetapi entah mengapa profesi itu dianggap tidak KEREN, hanya karena tidak mendapatkan penghasilan yang tetap.

Dulu aku berfikir, kenapa sih petani banyak yang miskin?
Kenapa banyak yang malu menjadi anak petani?
Kenapa yang kaya justru anak pedagang? Padahal yang dijual kan hasil dari kerja keras petani.

Kenapa petani justru sering berkata kepada anaknya, “kalau sudah besar nanti jangan jadi petani seperti saya, jadilah pegawai seperti guru bidan perawat atau yang lain”. Seburuk itu kah profesi sebagai seorang petani sehingga tidak ingindiwariskan kepada anaknya?
Memang sih waktu SD dulu ku lihat guru SD.ku sebagian besar hidup berkecukupan, dan aku ikut berfikir seperti itu. Tetapi naluri ini tidak bisa ditahan, apakah benar seperti itu? Kenapa harus seperti itu?

Pertanyaan itu terus ku simpan mulai dari SD sampai SMA. Kenapa yang merasakan justru yang tidak melakukan kerja keras? Apakah ini bisa disebut adil? Memang sih adil itu sesuai dengan proporsi bukan sama rata karena kita bukan bangsa penganut paham komunis.

Tapi,,

Lagi – lagi hati ini berontak, ketika melihat langsung atau mendengar cerita petani yang menjual hasil panennya kepada tengkulak atau pedagang pengumpul dengan harapan memperoleh hasil yang pantas untuk kerja kerasnya. Tetapi sebagian besar yang mereka terima adalah senyum kecut yang tergambar dalam wajahnya ketika hasil yang mereka harapkan tidak sesuai dengan kenyataan.

Ya. Disini aku sadar bahwa ada masalah. Seperti teori sosiologi, masalah adalah kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Petani berharap hasil kerja kerasnya dihargai dengan pantas tetapi yang mereka terima lebih sering tidak seperti itu, ini adalah masalah. Masalah yang sudah membelenggu petani selam bertahun – tahun dan mungkin sudah berkaar sangat dalam.

Petani berangkat ke sawah setiap pagi, menghadapi teriknya panas matahari, harus merawat tanaman, terkadang sampai bertengkar apabila tanamannya kekurangan air. Hasil panennya hanya dihargai murah, itu saja belum cukup mengiris hatiku.

Hati ini sangat miris, ketika petani berharap hasil panennya pada pedagang untuk dibayar tunai atau sebagian dulu tapi kenyataan yang di dapat seringkali tanamannya sudah dipanen tapi haknya petani belum diberikan oleh tengkulak. Padahal petani menggantungkan hidupnya pada tanaman tersebut, untuk kebutuhan hidupnya, untuk biaya sekolah anakanya, untuk berobat, dan hal – hal lain. Seringkali pedagang main kucing – kucingan ketika petani datang untuk meminta haknya, petani harus terlunta kesana kemari mencari tengkulak untuk meminta haknya.

Kenapa bisa seperti ini? Dulu aku hanya bisa menyimpan semua ini dalam pikiran dan tidak pernah menemukan jawaban meskipun sudah menceritakan pada orang lain.

Setelah masuk bangku kuliah,,

Aku menemukan jawabannya, dalam suatu sistem agribisnis petani memang membutuhkan tengkulak atau pedagang pengumpul untuk menjual hasil pertaniannya. Dosen dan materi yang kubaca semua berkata seperti itu. Hati ini masih belum puas mendapatkan jawaban itu.

Aku terus mencari jawabannya. . .
Sampai akhirnya aku menemukan jawaban yang kurasa sudah cukup menjawab rasa penasaranku selama ini.

Kenapa petani dipermainkan tengkulak atau pedagang pengumpul? Karena posisi tawar petani lemah! Di Jepang petani memiliki posisi tawar yang tinggi karena memiliki lembaga pemasaran yang harus dilalui oleh pedagang saat akan membeli produknya.

Kenapa petani mendapatkan harga yang tidak sepantasnya? Karena yang mengetahui harga pasar 
adalah pedagang! Memang sih pemerintah menetapkan Floor Price (harga pembelian terendah) tapi kebijakan hanya dibuat, dalam realisasinya seringkali tidak berjalan dengan baik karena kurangnya pengawasan. Di Jepang petani selain mengetahui harga dan wilayah mana yang membutuhkan produknya sehingga tidak sampai terjadi panen raya sampai harga produknya murah, eh terlalu pertanian ya bahasanya. Jadi gini, seringkali kita menjumpai harga mangga, oh rambutan aj wes kayak lagunya wali musim duren sampai musim rambutan :D. Buah rambutan seringkali sangat murah dimana harganya tidak sampai Rp 1000/kg, karena kita tidak mengetahui daerah mana yang membutuhkan buah tersebut. Di Jepang tidak pernah terjadi seperti itu karena mereka tahu dimana daerah yang membutuhkan buah rambutan sehingga harganya tetap stabil.

Kenapa di Indonesia tidak seperti itu?

Yah, masalah di negara justru semakin kompleks.
Kenapa petani banyak yang miskin? Ya. Aku dapat jawabannya. Petani kita seringkali krisis manajemen. Ketika panen seringkali petani membeli barang” yang kurang diperlukan tanpa memikirkan kehidupannya kedepan selama dia mulai menanam tanaman lagi, seharusnya uang itu dimanajemen agar cukup sampai panen berikutnya. Kondisi ini diperparah dengan kelakuan para tengkulak yang tidka cepat membayar hak petani.

Kenapa banyak yang malu menjadi anak petani? Ya. Aku mendapat jawabannya. Petani dianggap pekerjaan yang tidak menjanjikan karena hasilnya tidak pasti ditambah dengan pakaian yang lusuh karena harus berteman dengan lumpur. Oh men, bukankah bertani itu sama dengan berbisnis? Bukankah setiap kita menanam sama dengan kita menanam modal? Untung rugi? Itu sudah biasa, tapi petani justru lebih hebat daripada kita. Kenapa? Beliau terus menanam meskipun seringkali rugi, beliau memilih menanam tanaman apa itu sudah suatu manajemen. tidak perlu menempuh mata kulaih manajemen pengambilan keputusan seperti anak agribisnis. Pengusaha seringkali menganalisis usahanya sebelum mengusahakan sesuatu, bertanya pada konsultan. Petani? Petani otoditak merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengevaluasi sendiri usaha taninya. Bukan itu tugas seornag manajer? Bukankah petani hebat? Tidak harus kuliah dimanajemen tapi sudah bisa melakukan fungsi – fungsi manajemen.

Lalu,,

Kenapa harus malu menjadi anak petani? Bagaimana apabila petani tidak mau menanam lagi? Apa yang terjadi? Bahkan dosen saya pernah bilang bagaimana kalau semua petani di Indonesia tidak mau menanam lagi, dan pemerintah membuang semua beras yang ada ke dalam laut, mau makan apa kalian? Masih mau meremehkan petani?

Kalian mau makan apa? Impor dari negara tetangga? Tidak malukah kita makan minta tetangga terus padahal kita dikenal sebagai negara agraris?

Di Jepang profesi sebagai petani itu adalah profesi yang KEREN. Kenapa? karena mereka sadar dan sangat menghargai jasa petani, apabila tidak ada petani mereka tidak mengkin bisa mengkonsumsi makanan setiap hari. Tidak hanya makanan, tapi pakaian dan perabotan yang terbuat dari kayu itu hasil darimana? itu hasil dari pertanian! Tapi seringkali masuk dalam industri. Petani Jepang sangat makmur dan bangga menjadi petani, mereka seringkali jalan – jalan ke luar negeri pada musim dingin untuk refreshing.

Lho.. pertanyaan saya.. mereka bisa jalan – jalan padahal bertani hanya beberapa musim. Sedangkan petani Indonesia bertani setiap hari kenapa masih miskin?


Jawabannya adalah generasi muda yang bisa memperbaiki semua ini, genrasi muda haruus berjuang lebih keras agar semua permasalahan yang ada bisa terpecahkan meskipun butuh proses dan kerja keras.


4 September 2015
anggraini dwi rahayu anak desa yang memiliki mimpi tinggi
dan sedang berusaha mewujudkan mimpinya