BAB
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karakter adalah cara
berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan
bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa
dan negara. Individu yang berkarakter baik
adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan
tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Karakter dibentuk dari manusia itu
kecil dengan pengaruh faktor internal dan eksternal, lingkungan internal adalah
lingkungan keluarga sedangkan lingkungan eksternal adalah lingkungan masyarakat
sekitar tempat tinggal dan lingkungan pendidikan.
Karakter dibentuk mulai
kecil dan menjadi ciri khas manusia, namun karakter cenderung disebut dengan
sifat karena dalam melakukan kehidupan seperti cara berfikir dan berperilaku
menggunakan hal tersebut. Sifat merupakan bawaan dari lahir yang menjadi kebiasaan
manusia dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Sifat sangat sulit dirubah,
karena sudah menjadi bagian dari manusia dalam menjalankan kehidupannya.
Sifat manusia terbagi
menjadi dua, yaitu sifat positif dan sifat negatif. Sifat positif akan membuat
manusia tenang dalam menjalankan kehidupannya, karena setiap masalah yang
muncul dipandang dari segi positif sehingga tidak ada halangan yang berarti
dalam menjalankan kehidupannya dan tetap bersyukur kepada tuhan. Sifat negatif
akan membuat manusia tidak tenang dalam menjalankan kehidupannya, karena setiap
masalah yang muncul dipandang dari segi negatif sehingga masalah yang ada hanya
dianggap sebagai beban dan kehidupannya hanya berisi keluhan kepada tuhan.
Sifat pada manusia
cenderung menjadi kepribadian atau karakter manusia itu sendiri, apabila
sifatnya baik maka kepribadiannya juga baik dan sebaliknya apabila sifatnya
kurang baik maka kepribadiannya juga kurang baik. Sifat tersebut yang akan
menjadi warna dalam kehidupan manusia, karena manusia berinteraksi dengan
manusia lainnya. Salah satu contoh sifat manusia yang negatif adalah sifat
sensitif (mudah tersinggung), sifat ini tidak baik ketika kita berintaksi dalam
kehidupan seri-hari. Sifat ini menimbulkan perpecahan antara manusia yang satu
dan manusia yang lain, karena perkataan orang lain dianggap kurang baik dan
menyakiti hatinya. Sifat ini tidak baik apabila dibiarkan tumbuh berkembang dan
tumbuh secara berlebihan, karena karakter setiap orang berbeda-beda dalam
berinteraksi pasti kita menemui karakter orang yang kasar dan apabila sifat
sensitif ini berlebihan pasti akan sakit hati sendiri dan semakin terkucilkan
dari masyarakat.
1.2 Tujuan
1.
Untuk mengetahui faktor yang mendorong
sikap sensitif cenderung muncul pada perempuan
2.
Untuk mengetahui pengaruh lingkungan
terhadap munculnya sikap sensitif
3.
Untuk mengetahui dampak buruk yang
ditimbulkan sifat sensitif dalam pergaulan
4.
Untuk mengetahui cara menghilangkan
sifat sensitif agar tidak menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari
1.3 Rumusan Masalah
1.
Mengapa sikap sensitif cenderung muncul
pada perempuan?
2.
Apakah sifat sensitif muncul karena
pengaruh lingkungan?
3.
Apa saja dampak buruk yang ditimbulkan
sifat sensitif dalam pergaulan?
4.
Bagaimana menghilangkan sifat sensitif
agar tidak menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari?
BAB
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengertian Karakter
Menurut (Ditjen Mandikdasmen -
Kementerian Pendidikan Nasional), Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku
yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam
lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Individu yang berkarakter baik adalah individu yang
bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari
keputusan yang ia buat.
Fajri menguraikan, karakter adalah
sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seorang dari
yang lain, tabiat, watak yang menjadi ciri khas seseorang (Depdiknas, 2007 :
442).
W.B. Saunders, (1977:
126) menjelaskan bahwa karakter adalah sifat nyata dan berbeda yang ditunjukkan
oleh individu, sejumlah atribut yang dapat diamati pada individu.
Gulo W, (1982: 29)
menjabarkan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik
tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, biasanya
mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.
Kamisa, (1997: 281)
mengungkapkan bahwa karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi
pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak. Berkarakter
artinya mempunyai watak, mempunyai kepribadian.
2.2
Faktor pendukung sifat sensitif
Salah
satu faktor yang mendukung sifat sensitif adalah naluri, perempuan dalam
memandang semua hal selalu menggunakan naluri atau perasaan. Hal ini yang
menyebabkan sifat sensitif cenderung muncul pada perempuan. Naluri seorang
perempuan yang lembut membuatnya sedih apabila mendengar kata-kata kasar, hal
ini tidak menimbulkan masalah apabila masih berada di ambang batas yang wajar. Apabila
naluri berlebihan, akan menimbulkan sifat sensitif yang berlebihan pula.
Kata-kata yang menurut sebagian orang biasa saja, namun menurut orang yang
sensitif menyinggung perasaannya (Fajri, 2007).
2.3
Lingkungan yang mendukung sifat sensitif
2.3.1 Pengaruh Lingkungan Keluarga
Lingkungan pertama yang berhubungan
dengan manusia ketiak lahir di dunia adalah orang tuanya. Melalui lingkungan
inilah manusia mulai mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang
berlaku sehari-hari. Melalui lingkungan keluarga inilah manusia yang masih
kecil (anak) mengalami proses sosialisasi awal. Orang tua biasanya mencurahkan
perhatiannya untuk mendidik anak, agar anak tersebut memperoleh dasar-dasar
pergaulan hidup yang benar melalui penanaman sikap disiplin dan kebebasan serta
penyerasiannya. Pada saat ini orang tua dan anggota keluarga lainnya melakukan
sosialisasi melalui kasih sayang, atas dasar kasih sayang itu mendidik untuk
mengenal nilai-nilai tertentu seperti nilai ketertiban, nilai ketentraman, dan
nilai yang lainnya (Zakiah, 2003).
Keluarga
juga merupakan pelaksana pegawasan sosial yang penting. Banyak norma-norma yang
dipelajari dalam keluarga dan merupakan pembatas tingkah laku yang sesuai.
Kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat dan kontrol kelembagaan yang mengatur
peradilan, perkawinan, peranan-peranan pribadi maupun umum dari suami dan istri
merupakan pelajaran yang luas di dalam keluarga. Motivasi dan keberhasilan
studi salah satunya di pengaruhi oleh lingkungan keluarga. Orang tua terlalu mementingkan disiplin atau
memberikan kebebasan dari pada disiplin, ternyata keseimbangan keduanya sangat
diperlukan anak untuk berkembang dan mencapai impian yang diinginkan (Kamisa,
1997).
2.3.2 Pengaruh Lingkungan Sosial
Lingkungan
sosial adalah segala faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangan pribadi
manusia, yang berasal dari luar diri pribadi. Secara konsepsional, maka
lingkungan sosial mencakup unsur-unsur :
a.
Proses sosial inti adalah interaksi sosial yang
merupakan proses hubungan timbal balik antar individu, antar kelompok, dan
antar pribadi dengan kelompok.
b.
Struktur sosial menjadi landasan sosial, oleh karena
mencakup aspek-aspek sosial yang pokok yakni kelompok sosial, kebudayaan,
lembaga-lembaga sosial, stratifikasi sosial, kekuasaan dan wewenang.
c.
Perubahan-perubahan sosial yang dimaksud dengan
perubahan yang terjadi pada struktur sosial, secara sosiologis lingkungan
budaya merupakan hasil lingkungan sosial (Zakiah, 2003).
2.3.3 Pengaruh Lingkungan Sekolah
Lingkungan
sekolah berpengaruh penting dalam pembentukan karakter manusia karena
lingkungan sekolah sebagai pelengkap dari lingkungan keluarga. Di lingkungan
sekolah manusia mulai berinteraksi dengan manusia lain yang umurnya sama atau
sepermainan, saat itu seorang anak sudah mulai mempunyai sahabat-sahabat yang
terasa dekat sekali dengannya. Sahabat-sahabt itu memang di perlukan sebagai
penyaluran berbagai aspirasi yang memperkuat unsur-unsur kepribadian yang
diperoleh dari rumah. Sudah tentu bahwa sahabat juga cenderung dan memiliki
kesempatan yang besar untuk memberikan pengaruh yang baik dan benar, walaupun
tidak mustahil bahwa ada sahabat yang memberikan pengaruh yang kurang baik.
Kelompok sahabat tersebut berkembang dengan lebih luas, perkembangan lebih luas
antara lain disebabkan karena bertambah luas ruang lingkup pergaulannya baik di
sekolah maupun di luar sekolah (Zakiah, 2003).
2.4
Dampak sikap sensitif terhadap kehidupan sehari-hari
Dampak yang
ditimbulkan sikap sensitif terhadap kehidupan sehari-hari adalah sosialisasi
kita terhadap manusia yang lain akan terganggu karena dalam berinteraksi
diperlukan media komunikasi yaitu berbicara dengan menggunakan bahasa yang
dimengerti satu sama lain. Berbicara dengan orang lain menggunakan perkataan
yang kadang-kadang sengaja atau tidak sengaja sedikit kasar yang dapat
menyakiti perasaan orang lain. Hal itu sering terjadi dalam kehidupan
sehari-hari yang pada akhirnya dapat mengganggu ketentraman hidup manusia
(Jully, 2001).
2.5
Kiat-kiat menghilangkan sifat sensitif
a.
Jangan hanya menggunakan perasaan dalam mendengarkan perkataan orang lain,
terkadang gunakan fikiran dan berfikirlah secara rasional.
b.
Berinteraksilah dengan lebih banyak orang yang memiliki karakter berbeda, itu
akan membantu mempertebal sikap toleransi kepada orang lain.
c.
Berinteraksilah dengan berbagai suku yang berbeda, maka pemahaman kosa kata
akan bertambah dan tidak sakit hati dengan perkataan yang sedikit kasar.
d.
Jangan selalu serius ketika berbicara dengan orang lain, karena mungkin satu
saat lawan bicara mengajak bergurau (Jully, 2001).
BAB 3. PEMBAHASAN
3.1
Faktor-faktor yang mendorong sikap sensitif pada perempuan
Faktor
yang mendorong sifat sangat banyak diantaranya adalah faktor perasaan atau naluri
yang ada pada perempuan biasanya digunakan untuk berfikir dan berperilaku.
Naluri pada perempuan sangatlah kuat, itu sangat berguna ketika digunakan untuk
sesuatu yang positif seperti naluri seorang ibu yang tahu ketika anaknya sakit.
Naluri seorang perempuan yang kuat terkadang berlebihan ketika naluri itu
menimbulkan munculnya sifat sensitif, perempuan lebih mudah tersinggung
dibandingkan laki-laki. Perempuan mempunyai perasaan yang halus dan sangat
mudah tersakiti oleh perkataan orang lain.
Faktor
keluarga yang memanjakan perempuan karena mempunyai sifat sensitif akan membuat
perempuan semakin manja dan sifat sensitifnya akan berkembang dengan
berlebihan. Keluarga yang terbiasa memanjakan anaknya akan membuat anak semakin
manja dan mempunyai sifat negatif seperti sensitif. Saat berinteraksi dengan
teman sebaya ketika si anak bermasalah dengan sifat sensitifnya, keluarga harus
menyadarkan anaknya bahwa itu tidak baik. Keluarga yang malah membela anaknya
dan menyalahkan orang lain karena tidak toleransi dengan sifat anaknya yang
sensitif akan membawa dampak buruk pada anak di kemudian hari.
Anak
akan terus berperilaku seperti karena didukung keluarga dan merasa aman karena
terlindungi keluarga apabila orang lain tidak suka dengan sikapnya keluarga
akan membelanya. Perbuatan seperti itu bukanlah pendidikan yang cabik untuk
anak, karena si anak tidak akan pernah mandiri dan sadar akan kesalahan
dirinya. Perempuan memang istimewa, bisa di istimewakan sebagai bentuk
menghormati, tapi apabila hal itu dilakukan secara berlebihan akan membuat
perempuan menang sendiri dan sifat sensitifnya semakin kuat.
Sifat
sensitif muncul karena perempuan lebih banyak menggunakan perasaannya dalam
melakukan segala hal, sedangkan laki-laki lebih banyak menggunakan pikirannya
dibandingkan perasaannya. Perempuan akan menjadi sangat lemah ketika
mengandalakan persaaanya apalagi dengan sifat sensitif yang berlebihan,
terkadang orang lain bukannya menghargai tapi malah menindas. Maka sebagai
perempuan seharusnya tidak perlu mempunyai sifat sensitif yang berlebihan,
karena itu bukan membuat perempuan semakin dihormati. Suatu saat bisa saja
perempuan malah akan ditindas apabila mempunyai sifat sensitif yang berlebihan.
3.2
Pengaruh
lingkungan terhadap munculnya sikap sensitif
Menurut sebuah penelitian
yang dikutip oleh DR. Zakiah Daradjat, perilaku manusia itu 83% dipengaruhi
oleh apa yang dilihat, 11% oleh apa yang didengar dan 6% sisanya oleh berbagai
stimulus campuran. Dalam perspektif ini maka nasehat orang tua hanya memiliki
tingkat efektifitas 11% dan hanya contoh teladan orang tua saja yang memiliki
tingkat efektivitas tinggi. Ada tiga lingkaran lingkungan yang membentuk
karakter manusia yaitu ; keluarga, sekolah, dan masyarakat. Meski ketiganya
saling mempengaruhi, tetapi pendidikan keluarga paling dominan pengaruhnya.
Suatu rumah tangga berhasil membangun keluarga sakinah,
maka peran sekolah dan masyarakat menjadi pelengkap. Jika tidak maka sekolah
kurang efektif, dan lingkungan sosial akan sangat dominan dalam mewarnai
keluarga. Pada masyarakat modern pengaruh lingkungan sangat kuat, karena ia
bukan saja berada di luar rumah tetapi menyelusup ke dalam setiap rumah tangga
sehingga menimbulkan penyakit tersendiri yakni penyakit manusia modern.
Sensitif adalah salah satu
penyakit manusia, karena sensitif merupakan sifat negatif manusia. Sensitif
bisa tidak berkembang apabila dicegah sejak awal, lingkungan keluarga mempunyai
peran penting dalam tahap ini. Orang tua bisa mendidik anaknya bahwa sifat itu
tidak baik dan bisa merugikan anaknya di kehidupannya mendatang. Orang tua yang
membiarkan anaknya mempunyai sifat tersebut dan memanjakan anaknya karena sifat
tersebut akan membuat anak semakin manja dan si anak akan berperilaku seperti
itu dilingkungan sekolah dan masyarakat karena sudah menjadi kebiasaan. Lingkungan
sekolah yang tidak mendukung akan membuat anak terkucilkan dan individual.
Anak yang mempunyai
sifat sensitif cenderung tidak disukai oleh teman-temannya, sehingga lingkungan
keluarga seharusnya membantu anak tersebut untuk menghilangkan sifat tersebut.
Apabila lingkungan sekolah malah mendukung dan memanjakan anak tersebut karena
mempunyai sifat sensitif, sifat sensitif akan semakin berkembang dan anak
tersebut akan semakin manja dan menggunakan sifat sensitifnya untuk sifat buruk
yang lain. Peran orang tua kembali dibutuhkan untuk mengawasi perkembangan
anaknya, sifat yang buruk harus segera dicegah ketika masih mengenyam
pendidikan agar tidak menyebar ketika anaknya hidup dilingkungan masyarakat
luas.
3.3
Dampak
buruk yang ditimbulkan sifat sensitif dalam pergaulan
Pergaulan
menuntut kita untuk saling menghargai satu sama lain, menghargai, toleransi,
dan saling bekerjasama. Apabila kita mempunyai sifat yang negatif akan membuat
kita tidak nyaman dalam pergaulan, atau bisa saja sifat itu membuat kita
dikucilkan dari pergaulan. Salah satu sifat negatif yang membuat kita kurang
mempunyai rasa toleransi adalah sifat sensitif, sifat ini membuat sifat negatif
yang lain yaitu egois. Sifat sensitif membuat kita hanya mementingkan diri
sendiri dan tidak mau tahu tentang perasaan orang lain.
Lingkungan
terkadang tidak semua mau menerima sifat sensitif, ada sebagian lingkungan yang
tidak mau menerima orang yang mempunyai sifat sensitif. Oleh karena itu sifat
sensitif tidak usah terus dibiarkan berkembang dalam diri kita, terkadang
lingkungan yang tidak mau menerima orang yang mempunyai sifat sensitif
cenderung mengucilkan orang tersebut. Sendiri di keramaian akan membuat manusia
sebagai makhluk sosial merasa sedih.
Perkataan
orang lain terkadang bisa dianggap kasar apabila orang tersebut memiliki sifat
sensitif, walaupun perkataan yang tersebut menurut sebagian besar orang biasa
saja. Perkataan yang biasa bisa dianggap kasar oleh orang yang memiliki sifat
sensitif, maka orang yang memiliki sifat sensitif seharusnya lebih banyak
berinteraksi dengan orang yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Hal itu
membuat orang yang mempunyai sifat sensitif tidak mempunyai ruang lingkup
pergaulan yang luas.
3.4
Cara
menghilangkan sifat sensitif
Menghilangkan
sifat sensitif bisa dimulai dari diri sendiri seperti; Belajarlah menghargai
orang lain, layaknya menghargai diri sendiri. Jangan hanya menyalahkan orang
lain, mungkin orang lain berkata kasar karena kita melakukan kesalahan.
Berinteraksilah dengan lebih banyak orang yang mempunyai karakter yang
berbeda-beda, dengan berinteraksi dengan orang yang mempunyai karakter yang
berbeda maka kita bisa belajar bahwa tidak semua menganggap perkataan yang
dianggap kasar oleh orang yang sensitif ternyata tidak dianggap kasar oleh
orang lain.
Kemauan
yang keras dari diri sendiri dengan terus melakukan intropeksi diri dan
berinteraksi dengan orang lain. Keluarga membantu dengan tidak memanjakan
anaknya lagi agar bisa menjadi pribadi yang dewasa dan mandiri. Lingkungan
teman dan sekolah juga membantu dengan mengajak berinterkasi orang yang
mempunyai karakter keras namun tidak jahat. Mengenalkan bahwa ada beberapa suku
yang terbiasa berinteraksi dengan bahas yang kasar namun itu tidak bermaksud
menyaikiti perasaan orang lain.
Belajar
menguasai diri sendiri agar lebih tegar menghadapi orang yang perkataannya
kasar. Selalu mempunyai pikiran positif terhadap perkataan-perkataan yang
dikeluarkan oleh orang lain, yakin bahwa perkataan itu dikeluarkan bukan untuk
menyakiti perasaan orang lain. Mandiri dan berbuatlah baik pada semua orang
dengan seperti itu orang lain tidak akan berkata kasar dan sifat sensitif bisa
dikendalikan.
BAB 4. PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Sifat
manusia ada yang sensitif dan negatif, dan salah satu contoh sifat negatif
manusia adalah sifat sensitif. Sifat sensitif itu tidak baik dipelihara dalam
diri manusia secara terus-menerus, karena mempunyai dampak buruk yang sangat
banyak. Sifat sensitif membuat manusia menang sendiri dan dikucilkan dari satu
lingkungan. Sifat sensitif tidak mempunyai nilai positif apabila berlebihan,
maka sifat sensitif tidak usah dijadikan alasan untuk membuat perempuan ingin
dihargai, karena tanpa itu perempuan pasti lebih dihargai daripada laki-laki.
4.2
Saran
Sifat
sensitif sebaiknya tidak perlu dibiarkan muncul dan terus berkembang dalam diri
manusia. Sifat sensitif harus dijauhkan dari diri manusia agar manusia bisa
dengan mudah berinteraksi dengan manusia lain dan tidak timbul konflik karena
perkataan yang sebernarnya masih diamabang batas yang wajar. Sifat sensitif
jangan dijadikan alasan untuk memanjakan perempuan karena perempuan lebih
sensitif, itu Ian membuat perempuan mempunyai sifat sensitif yang berlebihan.
DAFTAR PUSTAKA
Jully, W.2001.Pengertian Karakter dan Sifat Manusia.Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Depdiknas.2007.Pembagian
Karakter Manusia.
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2227308-pengertian-dan-pembagian-karakter-manusia/#ixzz2LVrjOEET diakses pada 23.45
selasa, 19-02-2013
Zakiah, M.2003.Dampak Buruk Sifat
Sensitif
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/09/.
dampak-buruk-sifat-sensitif ve. diakses 23.45
selasa, 19-02-2013
Kamisa, V.1997. Karakter dan Akhlak
Manusia
Fajri, K.2007. Sensitif Sifat Negatif Manusia
http://stat420.blogspot.com/2009/07/definition-of-sensitif-scope-and.html. diakses 23.55, rabu, 20-02-2013
Saunders, WB.1977. Karakter Pembeda
Sifat Manusia
http://www.karakter-pembeda-manusia.ac.nz/~iase/publications/1/10_26_ve.pdf.
diakses 23.55 rabu, 19-02-2013
Gulo, W.1982. Karakter Kepribadian
Manusia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar